Foto ilustrasi. (Foto: Net)
Foto ilustrasi. (Foto: Net)

YLKI: Cukai Itu Pajak Berdosa Yang Harus Diawasi

JAKARTA, TOPmedia - Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Tulus Abadi mengatakan kenaikan harga rokok adalah untuk pengendalian konsumsi bukan pendapatan, menurutnya kenaikan harga rokok tersebut disebabkan oleh kenaikan pendapatan cukai hasil tembakau sebesar 5,8 persen.

“Cukai itu kan pajak berdosa yang harus diawasi, setiap yang dikenakan cukai harus dikendalikan, rokok kena cukai barangnya abnormal,” ungkapnya di Warung Daun Cikini, Jakarta, Sabtu (27/8/2016).

Dia juga menjelaskan bahwa dirinya juga akan membela petani karena petani sering menjadi korban, “karena mereka (petani tembakau) sering menjadi korban dari pada yang diuntungkan,” katanya.

Sebenarnya, seberapa besar harapan pemerintah pada barang konsumsi adiktif satu ini terhadap penerimaan?

Dengan hanya melihat dari segi penerimaan cukai, rokok atau yang dalam istilah cukai disebut hasil tembakau memang memegang peran mayoritas.

Dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2017, pendapatan cukai 2017 ditargetkan sebesar Rp157,15 triliun.

Dari target pendapatan cukai total itu, sebanyak Rp149,87 triliun diantaranya ditopang dari pendapatan cukai hasil tembakau.

Adapun sisanya berasal dari cukai Ethyl Alkohol (Rp150 miliar), cukai Minuman Mengandung Ethyl Alkohol (MMEA) (Rp5,53 triliun), dan pendapatan cukai lainnya (Rp1,6 triliun).

Jika dibandingkan dengan target APBNP tahun 2016, target pendapatan cukai dalam RAPBN tahun 2017 itu meningkat sebesar 6,1 persen.

Kenaikan tersebut terutama disebabkan oleh kenaikan pendapatan cukai hasil tembakau sebesar 5,8 persen.

Dalam Nota Keuangan dan RAPBN 2017, dikutip Senin (22/8/2016) dijelaskan, penentuan target pendapatan cukai diarahkan untuk mengendalikan konsumsi barang kena cukai melalui penyesuaian tarif cukai hasil tembakau dan tarif cukai EA-MMEA. (Landy/Red)

Dalam RAPBN tahun 2017, juga akan dilanjutkan upaya mengenakan tarif cukai atas barang kena cukai baru yang diperkirakan memiliki negative externality (merugikan orang banyak).

berita terkait

Komentar