Ketua Umum DPP GMNI, Arjuna Putra Aldino (tengah) saat poto bersama jajaran DPC GMNI Kota Cilegon. (Firasat/TOPMedia)
Ketua Umum DPP GMNI, Arjuna Putra Aldino (tengah) saat poto bersama jajaran DPC GMNI Kota Cilegon. (Firasat/TOPMedia)

Usul Bangun Patung Bung Karno, GMNI Ingatkan Sejarah Berdirinya Krakatau Steel di Kota Cilegon

CILEGON, TOPMedia – Ketua Umum DPP GMNI, Arjuna Putra Aldino meminta kepada pimpinan Krakatau Steel agar dapat mengingat pesan dan harapan Bung Karno. Sebagai wujud merawat memori sejarah, pihaknya meminta Krakatau Steel untuk dapat menampilkan dan mempertahankan nilai-nilai sejarah di dalam monumen Krakatau Steel yang yang kini disebut monumen robot.

"Kami berharap di dalam monumen tersebut ada patung Bung Karno bukan robot transformer, beserta literasi sejarah dan cita-cita Bung Karno mendirikan Krakatau Steel sebagai wujud mengingat tujuan dan harapan adanya induk industri baja nasional," ucap Ketua Umum DPP GMNI, Arjuna Putra Aldino usai mengukuhkan DPC GMNI Kota Cilegon di Gedung DPRD Kota Cilegon, Selasa (31/8/2021).

Menurutnya, GMNI di Kota Industri ini bisa memberikan kontribusi mengatasi permasalahan sosial yang kompleks, yang dimiliki oleh masyarakat industrial seperti ketimpangan sosial, pemukiman kumuh, dampak lingkungan hingga pergeseran pekerjaan. 

"Di Kota Cilegon telah lahir dan lama bermukim sebuah perusahaan baja nasional, yang didirikan oleh Bung Karno, ketika ramai-ramainya operasi Trikora pembebasan Irian Barat. Bung Karno mencanangkan pembangunan Proyek Baja Trikora di Cilegon, yang saat ini bernama PT Krakatau Steel," tegas Arjuna.

Dikatakan Arjuna, Bung Karno membangun Krakatau Steel agar menjadi induknya industri (mother of industry). Menurutnya, sebagai induknya industri, maka peranan industri baja adalah memberi dasar bagi perkembangan dan pembangunan jenis-jenis industri yang lain, seperti transporasi, elektronik, telekomunikasi, dan sebagainya.

"Sejarah industrialisasi di berbagai negeri-negeri maju selalu dimulai dari reformasi agraria dan pembangunan pertanian. Dan setelah itu, adalah pembangunan industri baja," ungkapnya.

Dengan begitu, seluruh elemen masyarakat terutama front Marhaenis, harus menjaga eksistensi induk industri baja agar kuat dan mandiri. Sehingga, lanjut Arjuna, bangsa Indonesia bisa bersaing di tengah arus industrialisasi 4.0 yang kian masif.

"Jika industri baja nasional dihancurkan atau bila kita tidak punya industri baja sendiri, maka industrialisasi nasional akan tersendat atau malah mengalami kehancuran," pungkasnya.(Firasat/Red)

berita terkait

Komentar