Polda Metroseksual Jaya (PMJ) dan tersangka penyelundupan narkoba  di Hotel Mandalika, Anyer, Kabupaten Serang, Banten. Kamis (10/08/2017).
Polda Metroseksual Jaya (PMJ) dan tersangka penyelundupan narkoba di Hotel Mandalika, Anyer, Kabupaten Serang, Banten. Kamis (10/08/2017).

Terungkap, Tiga Hotel Lokasi Penyelundupan Sabu 1 Ton Di Anyer

Serang, TOPmedia - Sebelum menentukan hotel Mandalika sebagai tempat berlabuhnya sabu seberat 1 ton, para pelaku penyelundupan pernah mensurvei dua hotel lainnya, yakni hotel Putri Duyung dan Alice. Hal ini terungkap dari rekonstruksi ulang yang dilakukan oleh Polda Metroseksual Jaya (PMJ) di Hotel Mandalika, Anyer, Kabupaten Serang, Banten.

"Rekontruksi ini kita jelaskan dari mulai cek lokasi, survei, dia kirim koordinat, ada beberapa kali dia datang kesini. Sampai nanti pengiriman dari kapal karet ke penerima di darat," kata AKBP Bambang Yudantara, Kasubdit III Reserse Narkoba PMJ, saat ditemui dilokasi rekonstruksi, Kamis (10/08/2017).

Sebelum menurunkan sabu senilai Rp 1,5 triliun itu, para pelaku mensurvei lokasi pertama kali pada 10 Juni 2017. Lokasi pertama adalah hotel Putri Duyung, yang dilakukan oleh tujuh orang, yakni Aning alias Apun, Paul alias Hao, Hsu Yung Li,  Abing alias Apin, Chen Wei Cyuan, Liao Guan Yu, dan Lin Ming Hui yang akhirnya ditembak mati karena akan menabrakkan mobilnya ke polisi yang akan menangkap mereka.

"Total tujuh tersangka, tujuh itu tiga balik ke Taiwan, empat yang main, yang tiga sudah di amankan di Taiwan," terangnya.

Baik dalam Berkas Acara Peradilan (BAP) dan rekonstruksi ulang, terungkap para pelaku telah tiga kali mensurvei dermaga eks Hotel Mandalika sebelum mendapatkan persetujuan dari bandar besar nya di Taiwan.

"ada sekita dua tiga kali mereka datang ke dermaga eks hotel Mandalika. Selebihnya mereka aktifitas di Jakarta," jelasnya.

Sebelumnya alat diberitakan pada Kamis, 13 Juli 2017, PMJ berhasil menggagalkan upaya penyelundupan sabu seberat 1 ton asal Taiwan di Hotel Mandalika, Anyer, Kabupaten Serang, Banten, senilai Rp 1,5 triliun. (Ydtama/Red)

berita terkait

Komentar