MEME Mukidi. (Foto: Net)
MEME Mukidi. (Foto: Net)

Sepenggal Kisah "Mukidi" yang Sukses Mengocok Perut dan Jadi Viral

TOPmedia - Mukidi. Nama Jawa yang terkesan "ndeso" itu mendadak ramai diperbincangkan di media sosial dan grup aplikasi pesan singkat. Berbagai kisah Mukidi sukses mengocok perut dan menjadi viral. Sosok Mukidi pun diburu karena membuat penasaran banyak orang. 

Tapi, jangan berharap bisa bertemu dan menjabat tangan Mukidi. Sebab, dia hanyalah sosok fiksi yang diciptakan sebagai pengantar berbagai kisah komedi. Semua dimulai dari sebuah blog bernama CeritaMukidi. 

Di situ ditulis Mukidi berasal dari Cilacap. Dia tipikal orang yang biasa saja, tidak terlalu alim, mudah akrab dengan siapa saja. Mukidi punya istri bernama Markonah, dan dua anak yang bernama Mukirin dan Mukiran. Mukidi bersahabat dengan Wakijan.

Pasaran dengan kisah Mukidi? Berikut kami tampilkan sepenggal kisah hidup Mukidi yang diambil dari blog terebut.

"Mukidi lapar ........Mukidi masuk ke sebuah rumah makan. Ia memesan ayam goreng. Tak lama kemudian sebuah ayam goreng utuh tersaji. Baru saja Mukidi hendak memegangnmya, seorang pelayan datang tergopoh-gopoh.

"Maaf mas, kami salah menyajikan. Ayam goreng ini pesanan bapak pelanggan yang disana", kata pelayan sambil menunjuk seorang pria berbadan kekar dan berwajah preman.

Akan tetapi karena sudah terlanjur lapar, Mukidi ngotot bahwa ayam goreng itu adalah haknya.

Pria bertampang preman itu segera menghampiri meja Mukidi dan menggertaknya.

"AWAS kalau kamu berani menyentuh ayam itu...!!! Apapun yang kamu lakukan kepada ayam goreng itu, akan aku lakukan kepadamu. Kamu potong kaki ayam itu, aku potong kakimu. Kamu putus lehernya, aku putus lehermu..!!!"

Mendengar ancaman seperti itu, Mukidi hanya tersenyum sinis sambil berkata, "Silahkan! siapa takut?"

Lalu Mukidi segera mengangkat ayam goreng itu dan menjilat pantatnya...

Hahahaha...
Hidup Lik Mukidi !!!"

Mencari Uang Kembalian

Cak Mukidi ke pasar, mau kulineran rujak cingur yang penjualnya ibu-ibu asal Madura bertubuh montok bernama Bu Markonah.

"Buk, rujak satu, berapa?" tanya Cak Mukidi.

"Sepoloh rebu..cak..," kata Bu Markonah.

Selesai dibungkus, Cak Mukidi bayar dengan uang Rp 20.000. Markonah bilang, "Cak... tangan saya lagi belepotan, kembaliannya ambil sendiri di sini ya," kata Markonah sambil menunjuk belahan dada atas.

Tanpa ragu-ragu Cak Mukidi merogoh karena orang Madura memang biasa menaruh segala macem di sana pikirnya. "Nggak ada..Bu." kata Cak Mukidi.

Buk Markonah kasih instruksi, "Lebih dalam lagi, terus, terus. Ke kanan, ke kiri."
Cak Mukdi: "Nggak ada...Buk."

"Ya sudah," kata Buk Markonah.

"Lah terus mana kembalian saya????" tanya Cak Mukidi bingung.

Buk Markonah dengan enteng berkata, "Ongkos rogoh-rogoh sepoloh rebu Cak, sampeyan kira goh-rogoh nang njero kutang ku gratis."

Mukidi hanya garuk-garuk kepala sambil nyengir mendengar Bu Markonah

 Ledakan

“Loh Di pulang dari Monas koq gigimu pada rompal?” Tanya Wakijan, “kamu jatuh dari motor?

“Bukan,” Mukidi masih menahan sakit, “waktu joget semalam aku pikir lebih seru kalau gw pasang petasan.”

“Terus kamu dikeroyok orang?”

“Bukan, waktu petasan kusulut pakai rokok, rokoknya kulempar. Petasannya kuisep.”

Hari Kemerdekaan

Jaya adalah tetangga Mukidi, tapi mereka tak pernah rukun. Mukidi merasa Jaya adalah saingannya.

Jika Jaya beli sepeda baru, Mukidi tidak mau kalah. Mukidi ya beli sepeda baru juga.

Ketika menjelang Lebaran, rumah Jaya dicat merah. Besoknya, Mukidi mengecat dengan warna merah juga.

Karena kini 17 Agustusan, Jaya memasang spanduk di depan rumah bertulisan "INDONESIA TETAP JAYA".

Hati Mukidi panas dan memasang spanduk juga dangan tulisan "INDONESIA TETAP MUKIDI"

berita terkait

Komentar