Pedagang timun suri di Kampung Warung Huni, Kabupaten Lebak. (Foto: TOPmedia)
Pedagang timun suri di Kampung Warung Huni, Kabupaten Lebak. (Foto: TOPmedia)

Ramadhan Jadi Berkah Bagi Pedagang Timun Suri

LEBAK, TOPmedia – Timun suri merupakan buah yang identik dengan bulan Ramadhan. Buah yang identik berwarna kuning emas ini selalu dicari karena menjadi minuman segar saat berbuka. Tak sulit mencari buah ini selama bulan puasa. Baik di daerah perkotaan maupun di perkampungan, di pasar maupun pinggir jalan.

Penjualan bukan hanya dilakukan oleh pedagang yang biasa berjualan buah. Pedagang dadakan pun bermunculan. Salah satunya Enok, padagang timun suri di sepanjang jalan Cisiih, Bayah tepatnya di Kampung Warung Huni, Kabupaten Lebak.

“Saya berjualan timun suri ini biasa saat bulan Ramadhan tiba, saya sudah sepuluh kali Ramadhan berjualan timun terus. Selain berjualan timun suri, saya juga jual lalab-lalaban kaya kacang, labu, terong dan sebagainya karena suka ada yang nanyain,” ujarnya, Sabtu (19/5/2018).

Dikatakan Enok, untuk pembeli timun suri kadang ada yang berasal dari Malingping, Wanasalam dan Binuangeun. Karena menurutnya, di kawasan Lebak Selatan tempat yang menjual timun suri hanya di warung huni ini saja. “Jadi walaupun jaraknya agak jauh, mereka tetap datang untuk membeli timun suri ini,” katamya.

Dijelaskan Enok, untuk harga dirinya menjual timun suri Rp5000 /kg. Tapi lain halnya kalau sudah mendekati lebaran, biasanya harga turun sampai setengah harga. “Itu sama semua lapak pasti ngejualnya 5000 per kilonya untuk sekarang, karena kami di sini kalo ada perbedaan harga suka ada peneguran dari penjual lainnya,” kata ibu satu anak ini..

Hal senada dikatakan Wiwi, warga kampung Warung Huni, ia juga seorang penjual timun suri musiman yang berjualan dikala bulan Ramadhan tiba saja, sebab kampung Warung Huni ramai dengan lapak-lapak timun suri.

“Apalagi kaya sekarang, puasa kita baru tiga hari ini, yang beli timun dari pagi sudah banyak yang ngeborong, mereka untuk dijual lagi di kampungnya. Kita kalo jual untuk ngeteng perkilo 5000, tapi kalo untuk jual lagi 3500 perkilonya.

“Timun puan ini kan makanan untuk semua kalangan, jadi yang beli juga datang dari semua kalangan. Dari tukang ojek sampai pejabat,” tambah Wiwi. (Uwa Endin/Red)

berita terkait

Komentar