Bentrok antara mahasiswa UIN Banten dengan aparat kepolisian. (Foto: TOPmedia)
Bentrok antara mahasiswa UIN Banten dengan aparat kepolisian. (Foto: TOPmedia)

Program 100 Hari Kerja Belum Terlihat, Mahasiswa Sebut Syafrudin Tak Becus Pimpin Kota Serang

SERANG, TOPmedia - Mahasiswa yang tergabung dalam Serikat Mahasiswa Sosialis Demokratik (SWOT) UIN SMH Banten menggelar aksi unju rasa dan berujung ricuh dengan kepolisian. Satu mahasiswa diketahui terluka setelah terpukul oleh kepolisian.

Aksi yang dilakukan di depan Kampus UIN SMH Banten ini juga sempat membuat kemacetan arus lalu lintas dari arah terminal menuju arah Ciceri.

Sebelum bentrokan antara mahasiswa dan kepolisian, aksi yang dilakukan oleh mahasiswa mengkritisi kepemimpinan Syafrudin - Subadri berjalan damai.

Namun kemudian saat mahasiswa  melakukan lingkaran revolusi dan hendak membakar ban tiba-tiba kepolisian datang untuk mengantisipasi sehingga lantas terjadi bentrokan.

Korlap Aksi Nahrul Muhilmi mengatakan sejak dilantik pada tanggal 5 Desember 2018 lalu, duet Syafrudin - Subadri telah menjanjikan kepada masyarakat untuk menjalankan program 100 hari kerja.

"Prioritas kerja Syafrudin - Subadri menggenjot tiga point, diantaranya dalam aspek  Penataan PKL di Kota serang, Kebersihan, dan Kemacetan," katanya kepada awak media di Kota Serang, Jumat (8/3/2019).

Disisi lain, kata Nahrul, percepatan program kerja yang digagas oleh Syafrudin - Subadri untuk menata ibu kota Provinsi Banten ini telah membius rakyat kecil.

"Konsepsi yang ditawarkan untuk menata kota serang menganulir kesejahteraan rakyat kecil, pasalnya Kebijakan relokasi PKL tidak sepenuhnya dijalankan dan diduga melanggar Perda No. 4 Tahun 2014," ucapnya.

Dikatakan Nahrul, pada sektor lain seperti persoalan sampah di kota serang sudah lumrah menjadi Fenomena Ibu Kota Provinsi. Dari beberapa persoalan sampah, salah satunya di Cilowong yang menjadi muara dari seluruh akar persoalan sampah.

"Sengatan aromatik bau sampah menyelimuti Kota Serang. Belum lagi terjadi longsor di tempat pembuangan sampah terpadu (TPST) Cilowong, Kecamatan Taktakan, bahkan sampai menelan korban jiwa," katanya.

Di sisi lain menyoal Kemacetan pun menjadi hal serius yang harus dipecahkan, pasalnya agenda 100 hari kerja terkait kemacetan belum sedikitpun terlihat.

"Syafrudin tidak becus memimpin secara serius Kota Serang, letupan pencitraan untuk mengakali dan menambal agenda 100 hari kerja membuat blunder dan menampar dirinya sendiri," ujarnya.

"Untuk itu, kami hari ini menuntut Realisasikan Perda No. 4 Tahun 2014, berikan jaminan dan kepastian hidup terhadap PKL, sterilkan Sampah di Kota Serang, wujudkan reformasi birokrasi yang transparan," tambahnya. (Kie/Red)

berita terkait

Komentar