Kampung Gerem, Kota Cilegon, usai digusur Pemkot Cilegon beberapa waktu lalu.*
Kampung Gerem, Kota Cilegon, usai digusur Pemkot Cilegon beberapa waktu lalu.*

Miris, Korban Gusuran di Gerem Mengemis Untuk Bertahan Hidup

CILEGON, TOPmedia - Warga Kelurahan Gerem, tepatnya dua kampung yang terkena gusur oleh Pemerintah Kota Cilegon, karena menempati lahan milik kereta api, sebagian diantaranya masih tetap bertahan di lokasi bekas pembongkaran. Dari 450 rumah yang dinyatakan bangunan liar oleh pemerintah dan telah dibongkar, sebanyak 96 kepala keluarga diantaranya memilih tetap bertahan di lokasi bekas bangunan miliknya, dengan mendirikan tenda-tenda disepanjang sisi jalur rel kereta.

Titin salah seorang warga sekitar mengaku, ia dan keluarganya tak punya pilihan lain selain bertahan di tenda miliknya, karena tak memiliki cukup uang untuk bisa menyewa kontrakan untuk tempat tinggal yang layak bagi keluarganya.

"Saya kecewa dengan pak wali, pak wali cuma bisa bongkar tapi ngga ada solusi, pak wali tidak memikirkan nasib warga. Kami bukan gelandangan, kami punya rumah tapi pemerintah menghancurkannya. Saya ngga mau pindah ke rumah singgah karena saya bukan gembel," kata Titin, Selasa (23/08/2016).

Sementara itu, Sumyati salah seorang warga lainnya mengungkapkan, ia terpaksa memilih tetap bertahan di tenda yang dibuatnya untuk sekedar berteduh dan tidur bersama keluarganya. Bahkan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, ia bersama keluarganya mengandalkan belas kasihan dengan meminta-minta di jalanan serta memanfaatkan puing bangunan yang telah dibongkar untuk bisa memperoleh uang agar bisa makan.

"Mau gimana lagi mas, mau ngontrak juga gak ada uang. Apalagi dulu mah saya kan dirumah sambil cari upah nyuci, tapi sekarang nggak bisa lagi. sekarang saya hanya bisa ngandelin dikasihani orang, sambil kumpulin kayu dan bata bekas bongkaran untuk dijual agar bisa makan," tutup sumyati. (S.H/Red)

berita terkait

Komentar