Ilustrasi (Foto:Net)
Ilustrasi (Foto:Net)

Kurikulum Tidak Sesuai Kebutuhan Lapangan Kerja, Jadi Penyebab Pengangguran Tinggi di Banten

SERANG, TOPmedia – Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Provinsi Banten kembali menduduki peringkat tertas, dan ini merupakan kedua kalinya diera kepemimpinan Wahidin Halim sebagai Gubernur Banten dan Andika Hazrumy sebagai wakil.

TPT tertinggi justeru disumbang dari lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) karena dianggap belum link and match antara kurikulum pendidikan dengan kebutuhan di lapangan.

Meski sebetulnya masalah link and match ini sudah sejak lama menjadi topik perbahasan Pemprov Banten, dalam menekan angka pengangguran.

Kepala Dinas ketenagakerjaan (Disnaker) Provinsi Banten, Al Hamidi mengaku, sampai saat ini pihaknya belum pernah menggelar rapat bersama dengan Dindikbud secara langsung untuk membahas link and match tersebut.

 "Kalau secara internal, artinya yang resmi itu belum, belum ada undangan. Ini baru wacana yang dibangun pak Gubernur, melihat kondisi pengangguran saat ini," terang Al Hamdi, kepeda topmedia.co.id, Rabu (11/11/2020) malam.

Pihaknya mengakui kejadian TPT tertinggi di Provinsi Banten saat ini, merupakan kejadian kedua diera kepemimpinan Gubernur Banten, Wahidim Halim bersama Andika Hazrumy sebagai wakil.

Pihaknya berharap, permasalahan link and match ini bisa terselesaikan secepatnya, minimal tiga tahun kedepan, agar kurikulum pendidikan disekolah bisa disesuaikan dengan kebutuhan lapangan kerja, melihat perubahan kurikulum juga harus melibatkan dari pusat.

"Bukan hari ini programnya dibuat jadi, besok langsung bim salabim, program ini membutuhkan waktu. Tiga tahun baru terjadi," katanya.

Sebelumnya, Wakil Ketua Komisi V DPRD Banten, Yeremia Mendrofa menilai program antar OPD dilingkungan Pemprov Banten masih terkesan jalan masing-masing.(Den/Red)

berita terkait

Komentar