Menteri PPA, Bintang Puspayoga saat meresmikan rumah perlindungan pekerja perempuan di kawasan industri PT. KIEC, Selasa (10/12/2019). (Foto: TOPmedia)
Menteri PPA, Bintang Puspayoga saat meresmikan rumah perlindungan pekerja perempuan di kawasan industri PT. KIEC, Selasa (10/12/2019). (Foto: TOPmedia)

Kunjungi Cilegon, Menteri PPA Sebut Perempuan Rentan Alami Kekerasan di Tempat Kerja

CILEGON, TOPmedia - Perempuan  menjadi kelompok yang rentan mengalami kekerasan, khususnya di tempat kerja. Kendati jumlah kasus di sektor industri memang tidak sebanyak jenis kekerasan yang terjadi diranah privat, tetapi dalam beberapa kajian dan testimony, bahwa buruh perempuan pabrik sebenarnya rentan terhadap tindakan kekerasan seperti pelecehan seksual, kekerasan psikis dan fisik.

Guna melindungi dan mencegah kekerasan terhadap kaum perempuan di tempat kerja tersebut, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Bintang Puspayoga, meresmikan rumah perlindungan pekerja perempuan di kawasan industri PT. KIEC, Selasa (10/12/2019).

"Saya mengapresiasi kawasan Industri PT. KIEC ini dengan memberikn fasilitas rumah pekerja perempuan ini. Saya berharap ini menjadi inspirasi dan bisa diduplikasi oleh kawasan industri lainnya, sehingga pekerja perempuan memiliki tempat untuk menyampaikan ketika mereka mengalami kekerasaan atau dikriminatif selama bekerja di perusahaannya masing-masing," tuturnya.

Ia mengungkapkan, pihaknya tidak bisa akan bekerja secara maksimal, jika tidak berkoordinasi dengan pemerintah daerah, karena itu kedepan pihaknha akan lebih mengeratkan kerjasama dengan  pemerintah daerah. Pasalnya, kasus kekerasan terjadi daerah, karena karakter masyarakatnya berbeda maka pihaknya akan melakukan pola yang berbeda untuk mencegah dan manangani kekerasan terhadap perempuan.

Semnetara itu, Deputi Bidang Perlindungan Hak Perempuan Kementerian PPA, Vennetia R. Dannes mengungkapkan, pola relasi kuasa dalam lingkup tempat kerja membuat pekerja perempuan kurang memiliki keberanian untuk melaporkan tindak kekerasan dan diskiriminasi yang dialami di tempat kerja.

"Kekhawatiran dan ketergantungan tinggi pada keberlanjutan pekerjaan yang dimiliki membuat perempuan juga tidak memiliki posisi tawar yang setara di dalam struktur kerja, sehingga perempuan yang mengalami kekerasan terpaksa menerima dan kebanyakan tidak berani melapor karena ancaman kehilangan pekerjaan. Sehingga selama ini tidak ada catatan khusus mengenai kekerasan dan pelecehan seksual di tempat kerja," tuturnya.

Selain itu, lanjut Vennetia,  pekerja perempuan juga masih mengalami diskriminasi, seperti sulitnya mendapatkan hak cuti hamil dan cuti haid yang sesuai dengan yang diatur dalam Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan dan juga permasalahan hubungan industrial lainnya yang tidak adil bagi pekerja perempuan. (Ik/Red)

berita terkait

Komentar