Para aktivis pegiat anti korupsi saat menggelar pertemuan dan diskusi publik di kantor ICW, Jakarta.*
Para aktivis pegiat anti korupsi saat menggelar pertemuan dan diskusi publik di kantor ICW, Jakarta.*

ICW: Melawan Korupsi di Banten Sulit. Jika?

JAKARTA, TOPmedia - Kebobrokan Provinsi Banten diawali saat pengelolaan pemerintahan yang buruk di era kepemimpinan Ratu Atut Chosiyah. Hal itu dikatakan Koordinator Indonesia Corruption Watch (ICW) Adnan Topan Husodo, saat menggelar diskusi di kantor ICW di Jakarta, Rabu (31/8/2016).

Menurut Adnan, tidak ada keterbukaan terhadap pengelolaan pemerintahan di Banten, yang akhirnya berdampak kepada korupsi yang merajalela.

Untuk itu, ia meyakinkan kepada masyarakat agar tidak memilih calon yang berasal dari dinasti politik keluarga mantan Gubernur Ratu Atut Choisyah saat Pilkada 2017. Sebab, katanya, dinasti politik Atut membuat pengelolaan pemerintahan menjadi buruk.

"Banten yang bersih dari koruptor, merupakan kerja panjang. Banten sebagian besar merupakan wilayah rural yang kesadaran masyarakat akan ancaman korupsi masih rendah," ujar Adnan Topan di kantornya, Jakarta, Rabu (31/8/2016).

Selain itu, hidup Atut, yang mewah kontradiktif terhadap keadaan masyarakat Banten pada umumnya. Ia menyebutkan, tiap bulan Atut belanjanya miliaran rupiah. Padahal gaji sebagai gubernur tidak seberapa.

“Kalau orang-orang macam Andika terpilih, perjuangan melawan korupsi di Banten makin sulit,” kata Adnan.

Sebelumnya, sejumlah aktivis berkumpul di kantor Indonesia Corruption Watch (ICW) untuk berkonsolidasi menyikapi dinasti politik Banten. Rabu (31/8/2016).

Aktivis yang menjadi peserta diskusi ini terdiri dari Bonnie Triyana, Ray Rangkuti (Direktur Eksekutif LIMA), Abdullah Dahlan (ICW), Beno Novit Neang (Forum Banten Bersih), Dahnil Anzar Simanjuntak (Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah), Madrasah Anti Korupsi, dan Truth Tangerang. (TM-1/RED)

berita terkait

Komentar