Hotel Grand Mangku Putera Cilegon.*
Hotel Grand Mangku Putera Cilegon.*

Hotel Milik Keluarga Wali Kota Cilegon Diadukan Ke Disnaker

CILEGON, TOPmedia - Lantaran tidak membayarkan pesangon sesuai aturan undang-undang ketenagakerjaan, empat mantan karyawan Hotel Grand Mangku Putra Cilegon yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK), mengadukan pihak management hotel ke dinas tenaga kerja (Disnaker) Kota Cilegon.

Mantan karyawan yang mewakili tiga puluh pekerja yang terkena PHK itu mengaku terpajsa melaporkan hotel milik keluarga Wali Kota Cilegon itu, untuk  memperjuangkan hak mantan karyawan, memperoleh uang pesangon yang layak dari hasil kerjanya selama tujuh tahun di hotel tersebut.

Diah Veronica salah seorang mantan karyawan mengaku, dirinya bersama rekan lainnya terpaksa mengadukan managemen hotel lantaran pihak hotel tidak memberikan uang pesangon yang semestinya.

Bahkan karyawan yang baru dengan karyawan yang telah lama bekerja, upah pesangonnya disamaratakan hanya sebesar dua kali gaji karyawan. Padahal semestinya, pihak hotel membayarkan dua kali upah minimum sektoral dikali masa kerja, ditambah uang penghargaan yang besarnya sebanyak tiga kali gaji.

"Saya cuma ingin kebijaksanaannya. Apalagi kami ini di PHK bukan mengundurkan diri. Jadi kami ke disnaker untuk memperjuangkan hak kami, yang seharusnya kami terima sesuai Undang-undang ketenagakerjaan nomor 13 tahun 2003 poin 164 tentang pemberian pesangon bagi yang di PHK," kata Devi, usai mengadukan management GMP di Disnaker Cilegon, Kamis, (18/08/2016).

Mantan karyawan yang di PHK per tanggal 31 juli ini, juga mengaku hanya diberitahu dua minggu sebelum pemutusan hubungan kerja dilakukan, dengan alasan karena okupansi hotel menurun sehingga harus melakukan efisiensi.

Padahal Dijelaskan mantan karyawan lainnya, Agus Giyardi, selama hotel beroperasi para karyawan juga hanya menerima gaji jauh dibawah upah minimum sektoral Kota Cilegon yang telah diseutujui pemerintah.

Namun tetap saja, pihak hotel tetap melakukan pengurangan karyawan. "Alasannya sih karena hotel sepi, makanya pihak hotel memberhentikan kami. Padahal saat bekerja kami juga menerima upah jauh dari standar UMSK," Terang Agus. (SH/red)

berita terkait

Komentar