Front Mahasiswa Lebak (FML) menggelar aksi unjuk rasa di depan gedung DPRD Lebak. (Foto: TOPmedia)
Front Mahasiswa Lebak (FML) menggelar aksi unjuk rasa di depan gedung DPRD Lebak. (Foto: TOPmedia)

Di Usia 188 Tahun, Kabupaten Lebak Masih Sangat Memprihatinkan

LEBAK, TOPmedia - Tepat pada hari  ini, Jumat ( 2/11/2016), Kabupaten Lebak memperingati hari jadinya yang ke-188 tahun. Akan tetapi, di usianya yang ke-188 tahun, kondisi Kabupaten Lebak masih sangat memprihatinkan.  

Hal tersebut disampaikan puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Front Mahasiswa Lebak (FML) yang menggelar aksi unjuk rasa di depan gedung DPRD Kabupaten Lebak, Rangkasbitung, Jumat (2/12/2016).

Menurut para pendemo, meski sudah beberapa kali ganti Bupati selaku kepala daerah, kabupaten Lebak masih menyandang predikat kabupaten tertinggal di Indonesia. Sebab, pembangunan yang dilakukan oleh Pemkab Lebak belum pro rakyat.

Disampaikan Imem, Korlap aksi, bahwa kabupaten Lebak berdasarkan catatan sejarah pada tanggal 2 Desember 1828 berdasarkan staatsblad Nomor 81 tahun 1828 Kabupaten Lebak dibentuk secara resmi sesuai dengan keputusan DPRD nomor 14 yang memutuskan untuk menerima dan menyetujui bahwa hari jadi Kabupaten Lebak jatuh pada tanggal 2 Desember 1828 beserta Rancangan peraturan daerah.

"Kabupaten Lebak yang sarat dengan sejarah, mulai dari Multatuli hingga romusha serta kaya akan bahan tambang mulai emas batubara dan galena serta panorama alam yang menjanjikan mulai dari gunung dan pantai hingga wisata budaya di Baduy. Namun kondisinya masih sangat memprihatinkan hingga kini, Lebak masih masuk dalam kategori Kabupaten tertinggal di Indonesia hal yang sangat memprihatinkan apabila diingat jaraknya tidak jauh dari ibukota negara," ungkap Imem.

Lanjut Imem, setelah beberapa kali Kabupaten Lebak berganti kepemimpinan atau Bupati Lebak tapi masih belum bisa berkembang. 

"Hari ini Lebak dipimpin oleh seorang wanita yang dijuluki srikandi Lebak, dengan janji mensejahterakan Lebak dengan tiga program yaitu Lebak sehat Lebak sejahtera dan Lebak pintar, nyatanya program tersebut tidak berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan oleh rakyat Lebak," tandas Imem.

Oleh karenanya lanjut Imem, Front Mahasiswa Peduli Lebak menuntut Pemkab Lebak, segera memaksimalkan pendidikan kesehatan dan kesejahteraan. Mendorong pemerintah untuk pemanfaatan dana alokasi khusus untuk pertanian dengan membentuk dan menjalankan Perda Agraria. 

Selain itu, mahasiswa pun mendesak pemerintah agar benar-benar serius dalam hal Keterbukaan Informasi Publik serta mendesak Pemerintah Kabupaten Lebak uji materi perda RTRW dan mempertegas hukum tanpa melihat kedekatan emosional dan garis keturunan. (Abg/Red)

berita terkait

Komentar