Benarkah Antibodi Pasien SARS Dapat Melawan COVID-19? Ini Kata Para Peniliti!

TOPmedia - Sejauh ini belum ditemukan obat-obatan khusus untuk melawan virus di tubuh pasien COVID-19. Maka dari itu, para ahli mencoba berbagai upaya untuk mendapatkan obat yang ampuh mengobati COVID-19. Salah satu temuan dari studi tersebut adalah antibodi dari pasien SARS dikabarkan dapat untuk melawan virus COVID-19.

Antibodi SARS untuk melawan COVID-19

Pada kasus tertentu, antibodi atau kombinasi dari sejumlah antibodi bisa berfungsi sebagai pengobatan infeksi virus baru atau mencegah virus pada orang yang berisiko tinggi. Peluang tersebut akhirnya digunakan oleh tim peneliti untuk menggali perkembangan antibodi monoklonal yang menetralkan virus. 

Menurut penelitian dari Nature, terdapat antibodi yang ditemukan dalam sampel darah pasien yang telah pulih dari SARS dikabarkan dapat melawan virus corona, termasuk COVID-19. Antibodi yang disebut sebagai S309 ini sebenarnya telah dipelajari sebelum pandemi COVID-19 merebak. 

Di dalam penelitian tersebut, para ahli mencoba bereksperimen dengan 25 jenis antibodi yang berbeda. Kemudian, mereka mencoba menargetkan antibodi tersebut terhadap lonjakan spesifik pada virus untuk melihat apakah terdapat jenis antibodi untuk mencegah sel terinfeksi COVID-19. 

Pasalnya, seperti yang telah diketahui sebelumnya bahwa baik SARS dan virus yang menyebabkan COVID-19 berasal dari payung yang sama, yaitu coronavirus. Virus yang diduga berasal dari hewan ini disebut memiliki struktur yang serupa. 

Hasilnya, para peneliti berhasil mengidentifikasi delapan antibodi yang disebut dapat mengikat COVID-19 dan sel yang terinfeksi. Salah satu kandidat yang cukup menjanjikan dikenal sebagai S309 dan terbukti dapat menetralisir coronavirus COVID-19. 

Para ahli mulai mencoba menggabungkan S309 dengan antibodi lainnya yang dianggap kurang kuat. Kemudian, gabungan antibodi tersebut digunakan untuk menargetkan tempat yang berbeda pada lonjakan protein virus. Dengan demikian, antibodi dapat mengurangi risiko virus untuk bermutasi.

Walaupun penelitian antibodi SARS dapat melawan COVID-19 belum diujicobakan pada manusia, temuan tersebut membuka jalan pengobatan lain dalam mengatasi COVID-19. Bahkan, terapi antibodi ini juga kemungkinan besar dapat mengurangi risiko infeksi virus pada kelompok yang berisiko, seperti lansia dan pasien dengan riwayat penyakit kronis.

Selain digunakan untuk mendeteksi keberadaan virus COVID-19 di tubuh, antibodi juga diperlukan untuk melawan infeksi, baik SARS maupun jenis virus corona lainnya. 

Antibodi atau imunoglobulin (Ig) merupakan protein khusus yang berikatan dengan antigen dan bisa ditemukan pada permukaan patogen, seperti bakteri atau virus. Umumnya, antibodi dibuat oleh limfosit B yang merupakan sel darah putih khusus dan berasal dari sistem kekebalan tubuh. 

Pada dasarnya antibodi terdiri atas berbagai macam dengan fungsi yang berbeda-beda pula, yaitu:

  • immunoglobulin A (IgA): berperan dalam munculnya alergi
  • immunoglobulin E (IgE): digunakan untuk pemeriksaan awal alergi
  • immunoglobulin G (IgG): melindungi tubuh dengan menghafal patogen yang pernah masuk
  • immunoglobulin M (IgM): antibodi pertama untuk melawan infeksi saat tubuh terserang infeksi

Limfosit atau sel B ini mempunyai antibodi pada permukaan sel, sehingga memungkinkan antibodi untuk mendeteksi benda asing. Pada saat berhasil menemukan patogen, sel B akan berubah menjadi sel plasma dan memproduksi antibodi agar dapat berikatan dengan antigen khusus dengan patogen tersebut.

Kemudian, sel plasma akan melepaskan antibodi dalam jumlah besar ke sirkulasi tubuh agar tubuh terlindungi dengan dua cara. 

Pertama, antibodi dapat berikatan dengan antigen di luar bakteri atau virus agar berhenti masuk ke sel-sel tubuh. Pasalnya, ketika patogen berhasil masuk ke sel tubuh Anda memudahkan mereka untuk memperbanyak diri hingga membuat tubuh sakit. Apabila sel berhenti masuk ke sel, tentu risiko terkena penyakit pun berkurang. 

Kedua, antibodi juga dapat bekerja dengan mengikat antigen pada patogen. Kemudian, antibodi memberi sinyal sel darah putih lainnya (fagosit) untuk menghancurkan patogen. Intinya, antibodi diperlukan untuk menetralkan virus dan menandainya agar dapat dihancurkan. 

Maka dari itu, temuan antibodi pasien SARS dapat digunakan untuk melawan COVID-19 cukup penting mengingat belum ada obat khusus untuk mengobati penyakit pernapasan ini. Terlebih lagi, informasi tentang antibodi COVID-19 dapat membantu peneliti merancang vaksin yang aman dan efektif untuk mencegah infeksi virus.

 

 

 

Sumber: Hellosehat

 

 

berita terkait

Komentar

pCloud Premium