Komunitas Srikandi Nusantara, menggelar kegiatan bakti sosial membersihkan sampah disepanjang jalur Taman Nasional Ujung Kulon, Pandeglang.*
Komunitas Srikandi Nusantara, menggelar kegiatan bakti sosial membersihkan sampah disepanjang jalur Taman Nasional Ujung Kulon, Pandeglang.*

Banyak Sampah di TNUK, Warga Keluhkan Kurangnya Perhatian Pemerintah

PANDEGLANG, TOPmedia - Komunitas perempuan petualang Indonesia, atau yang lebih dikenal Komunitas Srikandi Nusantara, menggelar kegiatan bakti sosial membersihkan sampah disepanjang jalur Taman Nasional Ujung Kulon, Pandeglang, dimulai dari tanggal 6-11 Maret 2018.

Ketua Srikandi Nusantara, Dinny Masyta, mengungkapkan bahwa kegiatan yang diinisiasi oleh Srikandi Nusantara tersebut merupakan bagian dari kegiatan yang sering dilakukan oleh Srikandi Nusantara sejak tahun 2015.

"Kegiatan tersebut merupakan bagian dari kegiatan yang biasa kita lakukan di samping memperingati hari perempuan sedunia yang jatuh pada tanggal 8 Maret kemarin," ucap Dinny, saat dikonfirmasi melalui telpon seluler, Senin (12/3/2018).

"Ini sekalian mengenalkan bahwa berpetualang bukan hanya sebatas naik gunung atau maen ke pulau saja, tapi juga harus bisa peduli terhadap lingkungan," imbuhnya.

Dinny pun menyampaikan, bahwa Srikandi Nusantara kerap melakukan kegiatan-kegiatan peduli lingkungan. "Tahun 2015 kita pernah melakukan pendakian serentak di lima wilayah Indonesia, tahun 2016 kita juga menggelar penanaman 1000 mangrove di Cikaso Sukabumi dan sekarang kita adakan bersih-bersih sampah di Ujung Kulon," paparnya.

Dipilihnya kawasan Taman Nasional Ujung Kulon, merupakan bentuk kepedulian dan keprihatinan dari Srikandi Nusantara terhadap salah satu destinasi wisata yang ada di Banten.

"Ini karena kita juga kebetulan sering maen ke Ujung Kulon, dan kita lihat banyaknya sampah di daerah Ujung Kulon, untuk itu kita berinisiatif menggelar baksos," jelasnya

Dinny pun menyesalkan masih kurangnya kesadaran masyarakat akan kebersihan lingkungan dengan seringnya membuang sampah ke laut.

Sekitar 23 orang anggota Srikandi dibantu 4 tour guide lokal dan 12 petugas balai TNUK menyisir sepanjang jalur TNUK dari mulai Karang Ranjang sampai Citelang dan beberapa pulau yang ada di TNUK seperti Pulau Peucang dan Pulau Handeuleum menjadi target pembersihan.

"Sekitar 130 kantung besar sampah berhasil dikumpulkan, tapi itu belum seberapa karena masih sangat banyak sampah yang berserakan di Taman Nasional Ujung Kulon karena keterbatasan SDM juga," tukasnya.

Sementara itu, Tour Guide Lokal, Qipong Buyaz yang juga turut serta dalam kegiatan tersebut, memberikan apresiasi dan terimakasihnya kepada Srikandi Nusantara yang sudah menggelar bersih-bersih sampah di Ujung Kulon.

"Sangat bagus, sekalian memberikan kesadaran juga buat masyarakat lokal, orang luar aja bisa, masa orang lokal ga bisa," tandasnya.

Ia menilai selama ini sangat jarang kegiatan seperti itu dilakukan di Taman Nasional Ujung Kulon, menurutnya baik dari Pemerintah Daerah atau pun dari pengelola Taman Nasional Ujung Kulon terkesan berdiam diri terkait persoalan sampah yang justru bisa membuat potensi wisata di selatan ujung Banten tersebut menjadi tidak bagus.

"Sudah ada obrolan dengan pihak TNUK, tapi mereka masih bingung nanti harus dikemanakan pembuangan akhirnya," katanya.

"Katanya sih akan memberikan bantuan alat pengelola sampah, tapi ga tau ya kedepannya," lanjutnya.

Disinggung peran dari pemerintah daerah terhadap persoalan sampah yang ada di TNUK, ia menyayangkan masih kurangnya perhatian dari pemerintah dalam menjaga kelestarian TNUK.

"Ngadukung doang, bahasa doang, ai prak na mh euweuh," tegasnya.

Ia berharap kedepan baik dari Pemerintah atau pun pengelola TNUK, bisa lebih konsen dalam penanggulangan sampah dan memfasilitasi terhadap kegiatan pembersihan sampah di Ujung Kulon.

"Pemerintah harus merutinkan kegiatan seperti itu, juga harus sering digembor-gemborkan kepada masyarakat untuk tidak membuang sampah ke laut, biar ada peningkatan kesadaran untuk menjaga lingkungan," tutupnya. (Die/Red)

berita terkait

Komentar