Tampak asap tebal yang diakibatkan dari debu klinker dan batubara yang terbakar dari Pabrik Semen PT Cemindo Gemilang, Bayah. (Foto: TOPmedia)
Tampak asap tebal yang diakibatkan dari debu klinker dan batubara yang terbakar dari Pabrik Semen PT Cemindo Gemilang, Bayah. (Foto: TOPmedia)

Asap Tebal Dari Pabrik Semen PT Cemindo Resahkan Warga Lebak Selatan

LEBAK, TOPmedia - Asap tebal kembali meresahkan warga Lebak Selatan, terutama warga Bayah dan sekitarnya, Asap tebal tersebut diakibatkan dari debu klinker dan terbakarnya batubara di pelabuhan khusus PT Cemindo Gemilang.

Entep warga Pulomanuk kepada TOPmedia menuturkan, dirinya merasa sangat tertanggu lantaran merasakan sesak nafas akibat asap tebal yang menyerupai kabut tersebut ketika bepergian malam hari di Bayah. Menurutnya, jika itu kabut mungkin tidak akan terasa perih karena banyak pasir yang masuk ke mata.

“Kalau itu kabut, tidak akan mungkin masuk ke mata. Ini mah perihnya minta ampun. Saya minta kepada orang Cemindo, coba sekali-kali pergi ke Bayah malam-malam tanpa menggunakan helm, supaya merasakan dan bisa dibuktikan sendiri. Harapan saya sebagai warga Bayah semoga pihak perusahaan secepatanya menangani asap atau polusi yang mengganggu ini,” ujarnya, saat ditemui di kediamannya, Jumat (23/8/2019).

Baca juga: 4 Hari Diguyur Abu Klinker, Warga Bayah Desak Aktivitas PT Cemindo Dihentikan

Hal senada juga dikatankan Iwan Rama, ia bersama warga Bayah lainnya yang terdampak polusi tersebut selalu bertanya-tanya. Ada apa dengan perusahaan PT Cemindo Gemilang? Dari sejak berdirinya pabrik semen tersebut sampai sekarang, belum pernah ada konpensasi apapun.

“Saya tidak menampik, mungkin sodara saya yang di Bayah Tugu pernah merasakan konpensasi dari CSR nya pabrik semen itu. Tapi apakah itu bisa mengcover semua  yang kena polusi ini? Bahkan menurut informasi, dana CSR untuk Bayah Tugu sudah tidak ada lagi. Saya gak ngerti itu,” jelas Iwan.

Terpisah, Ojos warga kampung Kiara Payung, Cimangpang Panggarangan kepada TOPmedia memaparkan, pabrik semen PT Cemindo tersebut bukan setahun dua tahun berdiri di Bayah, dirinya juga mengakui tinggal di Bayah sejak kecil. Tapi kenapa baru-baru ini dirinya tidak merasa nyaman tinggal di kampungnya sendiri.

“Saya ini tinggal di dataran tinggi, jadi angin dari laut pasti bertiup kesini. Bukan hanya asap yang mengganggu, tapi bau sangit itu juga yang bikin saya tidak nyaman disini. Apalagi sekarang musim kemarau, angin siang malam selalu kencang. Saya minta tolong, kepada pemerintah kabupaten maupun provinsi segera tangani polusi yang mengganggu kami warga Lebak Selatan ini,” tandasnya. (Uwa endin/Red)

berita terkait

Komentar