Aksi mahasiswa Keluarga besar mahasiswa (KBM)  Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Maulana Hasanuddin Banten (SMHB) yang di gelar di depan Kampus UIN SMH Banten berakhir ricuh, Rabu (2/4/2018) (Foto
Aksi mahasiswa Keluarga besar mahasiswa (KBM) Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Maulana Hasanuddin Banten (SMHB) yang di gelar di depan Kampus UIN SMH Banten berakhir ricuh, Rabu (2/4/2018) (Foto

Aksi Mahasiswa Peringati Hardiknas di Depan Kampus UIN Banten Berakhir Ricuh

SERANG, TOPmedia – Aksi mahasiswa Keluarga besar mahasiswa (KBM)  Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Maulana Hasanuddin Banten (SMHB) yang di gelar di depan Kampus UIN SMH Banten berakhir ricuh, dan sempat terjadi dorong - mendorong antara kepolisian dengan mahasiswa.

Kejadian saling dorong tersebut terjadi saat mahasiswa hendak membakar ban bekas sebagai tanda perlawan terhadap rezim penguasa yang dianggap telah diam terhadap dunia pendidikan di Banten.

Selain itu dalam aksi memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) ini diwarnai saling tendang dan perampasan toa atau alat pengeras suara milik mahasiswa oleh oknum kepolisian.

Koordinator aksi Rega Januar Al- Falim mengatakan, dalam aksi kali ini, pihaknya menyoroti dunia pendidikan khususnya di Banten yang dianggap masih banyak hal-hal yang perlu diselesaikan oleh pemerintah.

"Grand isu kami adalah darurat pendidikan dan Gubernur diam. Karena janji-janji Gubernur tentang SMA - SMK gratis yang tertera dalam UU no 23 tahun 2018 sampai saat ini masih banyak yang belum terealisasi," ujarnya saat melakukan orasi di depan puluhan mahasiswa, Rabu 02 Mei 2018.

Dikatakan Rega, masih banyak masyarakat yang mengeluh mahalnya biaya pendidikan, sarana dan prasaran yang tidak memadai serta tenaga pengajar yang belum memiliki upah layak.

"Kami menginginkan kualitas pendidikan merata yang harus diutamakan oleh pemerintahan karena ini adalah amanat undang-undang yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa kalau mereka tidak mencerdaskan kehidupan bangsa maka secara otomatis mereka telah melanggar kontitusi," katanya.

Kami menagih janji Gubernur, masih banyak kasus pendidikan yang harus segera diselesaikan, diantaranya alokasi dana sebesar 20% untuk pendidikan belum terealisasi banyak sekali sekolah yang belum merasakan fasilitas,  ruangan kelas yang tidak cukup," ujarnya menambahkan.

Selain itu Keluarga besar mahasiswa UIN SMH Banten juga meminta kepada Gubernur dan Wakil Gubernur untuk menindak para pelaku pungli yang masih berkeliaran di dunia pendidikan Banten.

Sementara itu, Presiden Mahasiswa UIN SMH Banten, Hasbi mengungkapkan bahwa permasalahan di bidang pendidikan seharusnya dituntaskan oleh negara sebagai penanggung jawab seperti yang diamanatkan konstitusi.

Akan tetapi, lanjut Hasbi sampai saat ini permasalahan pendidikan yang seharusnga menjadi salah satu prioritas ternyata masih jauh dari penyelesaian yang muncul justru upaya-upaya liberalisasi pendidikan.

”Pendidikan menjadi sebuah komunitas dagang bukan sebagai perjuangan mencerdaskan bangsa, anggaran pendidikan kerapkali salah sasaran bahkan menjadi lahan korupsi baru yang sering dijadikan sasaran,” ucapnya.

"Oleh karena itu kami, menuntut kepada pemerintah khhsunya Gubernur Banten menuntut kesejahteraan guru honorer, akses infrastruktur yang masih sulit harus segera diselesaikan stop kapitalisasi dan komersialisasi pendidikan, pengalokasian dana APBD sebesar 20% untuk pendidikan harus teralisasi,” ujarnya.

”Kami juga menuntut Gubernur untuk mewujudkan pendidikan dan kesehatan gratis tingkatkan sarana dan prasarana pendidikan di Banten optimalkan untuk mendirikan di Banten Adili pelaku pungli dalam dunia pendidikan," pungkasnya.(Riz/Red)

berita terkait

Komentar